MANAJEMEN KELAS

Senin, 11 Februari 2013

landasan pendidikan


BAB I
LANDASAN PENDIDIKAN

Landasan pendidikan adalah seperangkat asumsi yang dijadikan titik tolak dalam rangka pendidikan. Pendidikan berfungsi untuk memanusiakan manusia, bersifat normatif, dan harus dapat dipertanggungjawabkan. Pendidikan hakikatnya adalah upaya membantu manusia agar mampu mewujudkan diri sesuai kodrat dan martabat kemanusiaannya atau mampu melaksanakan berbagai peranan sesuai dengan statusnya berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma yang diakuinya. Dalam pelaksanaannya, pendidikan tidak boleh dilaksanakan secara sembarang, sebaliknya harus dilaksanakan secara disadari dan terencana.
Landasan pendidikan berasal dari berbagai sumber, berdasarkan sumbernya landasan pendidikan terdiri atas:
1.      Landasan Religius Pendidikan
Landasan ini bersumber dari ajaran agama yang dijadikan acuan dalam praktek pendidikan.
2.      Landasan Filosofis Pendidikan
Bersumber dari filsafat yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan
3.      Landasan Ilmiah Pendidikan
Bersumber dari disiplin ilmu tertentu yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan
Contoh: Landasan psikologis pendidikan, landasan sosiologis pendidikan, landasan antropologis pendidikan dsb.
4.      Landasan Hukum Pendidikan
Bersumber dari peraturan/ perundangan yang berlaku dan dijadikan titik tolak dalam pendidikan.
Berdasarkan sifat isi asumsi-asumsinya, landasan pendidikan terdiri dari:
1.      Landasan Deskriptif Pendidikan
2.      Landasan Preskriptif Pendidikan
Landasan pendidikan berfungsi sebagai titik tolak bagi para pendidik dalam melaksanakan praktek pendidikan
Tugas/ Latihan

1.      Landasan pendidikan adalah suatu dasar/ fondasi berdasarkan asumsi-asumsi yang dijadikan titik tolak dalam melaksanakan pendidikan.
2.      Berdasarkan sifat wujudnya landasan pendidikan tergolong ke dalam jenis landasan yang bersifat konseptual
3.      Landasan filosofis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan yang bersumber dari filsafat atau pandangan hidup.
4.      Contoh landasan ilmiah pendidikan adalah landasan psikologis pendidikan, landasan antropologis pendidikan, dsb.
5.      Landasan yuridis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang berasal dari hukum perundang-undangan yang berlaku dan dijadikan titik tolak dalam pendidikan.
6.      Dua jenis landasan pendidikan yang tergolong kedalam landasan pendidikan preskriptif adalah landasan filosofis pendidikan dan landasan religiud pendidikan
7.      Landasan deskriptif pendidikan adalah berbagai asumsi tentang kehidupan manusia sebagai sasaran pendidikan apa adanya dan menjadi titik tolak dalam pendidikan
Contohnya landasan psikologis pendidikan
8.      Untuk memahami berbagai landasan pendidikan seyogyanya kita melakukan study dan praktek pendidikan
9.      Asumsi adalah gagasan atau kepercayaan, prinsip, pendapat atau pertanyaan yang sudah dianggap benar dan dijadikan titik tolak dalam berfikir dan bertindak..
Contoh: asumsi pendidikan adalah postulat, aksioma dan premis tersembunyi.
10.  Fungsi landasan pendidikan dalam rangka praktek pendidikan adalah titik tolak atau acuan bagi para pendidik dalam melaksanakan praktek pendidikan.


BAB II
MANUSIA DAN PENDIDIKAN

Manusia adalah kesatuan antara badani dan rohani yang hidup dalam ruang dan waktu, memiliki kesadaran dan penyadaran diri, mempunyai berbagai kebutuhan instinsik, nafsu serta mempunyai tujuan. Selain sebagai individu, manusia juga merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan. Manusia memiliki inisiatif dan kreatif dalam menciptakan kebudayaan yaitu keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dalam belajar (Koentjaraningrat, 1985).
Ada 3 jenis wujud kebudayaan, yaitu:
1)      Sebagai kompleks dari ide-ide, ilmu pengetahuan, nilai-nilai, norma, peraturan-peraturan dsb.
2)      Sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat
3)      Sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Sebagai subjek yang otonom, manusia selalu dihadapkan pada suatu alternatif tindakan perbuatan yang harus dipilihnya. Adapun kebebasan untuk bertindak/berbuat itu selalu berhubungan dengan norma-norma moral dan nilai-nilai moral yang juga harus dipilihnya. Salah satu karakteristik esensial eksistensi  manusia yang terungkap dalam bentuk pangkuan atau keyakinan akan kebenaran suatu agama yang diwujudkan dalam sikap dan perilakunya adalah keberagaman. Ia memperoleh kejelasan tentang asal usulnya, dasar hidupnya, tata cara hidupnya, dan menjadikan jelas pula kemana arah tujuannya. Keberadaan manusia pada saat ini terpaut kepada masa lalunya, ia belum selesai mewujudkan dirinya sebagai manusia, ia mengarah ke masa depan untuk mencapai tujuan hidupnya. Dalam rangka mencapai tujuan hidupnya, manusia berinteraksi/ berkmunikasi baik secara vertikal maupun horizontal. Dalam rangka penyempurnaan diri baik dalam hubungannya dengan sesama/ dengan dunia dan Tuhan, manusia selalu aktif dan tidak pernah berhenti baik dalam aspek fisiologis maupun spiritualnya. Menuju manusia ideal.

Beberapa prinsip yang menjadi alasan keharusan pendidikan bagi manusia:
1.      Prinsip Historisitas
2.      Prinsip idealitas
3.      Prinsip posibilitas/ aktualisasi
Prinsip-prinsip kemungkinan pendidikan bagi manusia:
1.      Prinsip potensialitas
2.      Prinsip dinamika
3.      Prinsip individualitas
4.      Prinsip sosialitas
5.      Prinsip moralitas

Latihan dan Tugas

1.      Mengapa pendidik harus memahami hakikat manusia?
Karena, manusia mempunyai nilai dan kedudukan tersendiri bila dibandingkan dengan benda, hewan dan tumbuhan

2.      Tuliskan kesimpulan tentang hakikat manusia!
Manusia adalah:
a.       Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan YME
b.      Manusia merupakan kesatuan badani dan rohani
c.       Manusia merupakan makhluk individual yang tidak dapat dibagi-bagi sehingga bersifat unik
d.      Manusia bersifat homosocius
e.       Manusia sebagai makhluk yang berbudaya
f.       Manusia mempunyai kebebasan memilih untuk bertindak dengan nilai-nilai moral dan norma-norma yang harus dipilih
g.      Keberagaman menjadikan manusia lebih bermakna
h.      Manusia terpaut dalam masa lalu (historisitas)

3.      Manusia adalah mahkluk individu/ personal artinya manusia tidak dapat disamakan dengan manusia lain, manusia dilahirkan memiliki kekhasan tersendiri. Manusia kembar sekalipun tidak bisa disamakan. Meskipun manusia mirip, manusia ingin mengaktualisasikan potensi yang ada pada dirinya dan ingin menjadi diri sendiri.

4.      Manusia adalah makhluk Tuhan, dikemukakan salah satu argumen filosofisnya tentang adanya Tuhan:
a.       Argumen antologis yaitu semua manusia mempunyai ide tentang Tuhan
b.      Argumen kosmologis, yaitu segala sesuatu yang terjadi di alam ini pasti mempunyai sebab
c.       Argumen teleologis, yaitu manusia hidup itu hanya mempunyai tujuan
d.      Argumen moral, adalah manusia dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk.

5.      Eksistensi manusia berdimensi historitas, artinya manusia terpaut pada masa lalunya, masa sekarang manusia berkembang dan akhirnya masa depan. Ia belum selesai mewujudkan dirinya untuk mencapai tujuan hidupnya.

6.      Manusia adalah animal educandum, artinya hewan yang perlu dididik dan mendidik diri, sedangkan manusia adalah animal educable berarti hewan yang dapat dididik

7.      Tiga prinsip antropologis yang menjadi asumsi bahwa manusia perlu dididik adalah:
a.       Prinisp historisitas
b.      Prinsip posibilitas
c.       Prinsip idealitas



8.      Lima prinsip yang menjadi asumsi bahwa manusia dapat dididik adalah:
a.       Prinsip potensialitas
b.      Prinsip dinamika
c.       Prinsip individualitas
d.      Prinsip sosial
e.       Prinsip moral

9.      Manusia adalah makhluk yang dapat dididik, sebab itu dalam menghadapi siswa yang mengalami kesulitan belajar guru diharapkan bersikap sabar.

10.  “Setiap orang harus mendidik diri”, landasan antropologisnya karena dalam bereksistensi, yang mengadakan diri itu pada hakekatnya adalah manusia itu sendiri.

BAB III
PENGERTIAN PENDIDIK

Dalam arti luas, pendidikan adalah hidup artinya, pendidikan adalah segala pengalaman (belajar) diberbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi perkembangan individu. Sedang dalam pengertian sempit, pendidikan schooling artinya pengajaran formal yang terkontrol.
Pengertian pendidikan berdasarkan pendekatan ilmiah diantaranya pendekatan sosiologi yang identik dengan sosialisasi, pendekatan antropologi yang identik dengan enkulturasi, pendekatan sistem, pendidikan diartikan sebagai suatu keseluruhan yang teridiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan secara fungsional dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Pendidikan sebagai humanisasi diartikan sebagai upaya memanusiakan manusia. Sasaran pendidikan hakikatnya manusia sebagai kesatuan yang terintegrasi. Peran pendidik bukan untuk membentuk peserta didik, melainkan membantu/ memfasilitasi peserta didik untuk mewujudkan dirinya dengan mengacu kepada semboyan ing ngarso sung tulado (memberikan teladan), ing madya mangun karso (membangkitkan semangat) dan tut wuri handayani (membimbing) istilah dan makna pendidikan tidak berlaku untuk hewan.


Latihan/ Tugas

1.      Dalam arti luas, pendidikan adalah hidup artinya segala peristiwa, tindakan/ kejadian yang berlangsung dilingkungan, terjadi sepanjang hayat dan berdampak positif bagi perkembangan individu.

2.      Dalam arti sempit, pendidikan identik dengan schooling, artinya pengajaran/ usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana yang dilakukan oleh pengajar profesional kepada siswa/ mahasiswa dilembaga pendidikan formal dibawah kondisi terkontrol.
3.      Bandingkan karakteristik antara tujuan pendidikan dalam arti luas dan sempit.
Sempit       :   Terbatas pada perkembangan kemampuan tertentu untuk mempersiapkan individu agar menjadi anggota masyarakat.
Luas          :   Melekat pada diri manusia, sama dengan tujuan hidup

4.      Bandingkan karakteristik bentuk kegiatan dalam arti luas dan sempit:
Sempit       :   Pengajaran dibawah kondisi terkontrol (formal)
Luas          :   Semua  peristiwa/ pengalaman yang terjadi baik dimaksudkan untuk pendidikan/ tidak

5.      Bandingkan karakteristik lamanya pendidikan dalam arti luas dan sempit
Sempit       :   Terbatas, waktu tertentu, terjadwal
Luas          :   Bertanggung sepanjang hayat

6.      Berdasarkan pendekatan sosiologi pendidikan identik dengan sosialisasi
7.      Berdasarkan pendekatan antropologi pendidikan identik dengan enkulturasi
8.      Berdasarkan pendekatan politik pendidikan identik dengan civilisasi

9.      Menurut pedagogik, pendidikan adalah suatu upaya yang sengaja dilakukan oleh orang dewasa kepada orang yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya.

10.  Berdasarkan pendekatan sistem, pendidikan adalah suatu keseluruhan yang terjadi atas sejumlah komponen yang saling berhubungan secara fungsional dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

11.  Dalam sistem pendidikan, tujuan pendidikan berfungsi:
-          Memanusiakan manusia
-          Menjadikan manusia ideal

12.  Dalam sistem pendidikan, fungsi peserta didik adalah belajar atau menjalani proses pendidikan.

13.  Raw input sistem pendidikan adalah masukan mentah (siswa)
14.  Berdasarkan sudut pandangan antropologi filsafat, pendidikan adalah humanisasi artinya upaya untuk memanusiakan manusia

15.  Pendidikan bukanlah upaya membentuk peserta didik, landasan antropologisnya karena pada hakekatnya peserta didik adalah subjek yang otonom artinya yang berupaya untuk mengaktualisasikan dirinya adalah peserta didik itu sendiri.

BAB IV
PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU DAN SENI

A.    Studi Pendidikan
Studi pendidikan adalah upaya yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memahami pendidikan atau menghasilkan sistem konsep pendidikan. Metode atau cara kerja dalam studi pendidikan dibagi menjadi 3, yaitu:
1)      Metode kerja awam (kurang sistematis)
2)      Metode ilmiah
3)      Metode filsafiah

B.     Ilmu Pendidikan
Ilmu pendidikan adaah sistem pengetahuan tentang fenomena pendidikan yang dihasilkan melalui penelitian dengan menggunakan metode ilmiah. Ilmu pendidikan memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.       Objek studi     : Objek material (manusia) dan objek formal (fenomena pendidikan )
b.      Metode            : Metode ilmiah
c.       Isi                    : Deskriptif, objektif dan preskriptif
d.      Fungsi             : Menjelaskan, memprediksikan dan mengontrol
e.       Menggunakan ilmu-ilmu lain dalam mempelajari pendidikan

C.    Praktek Pendidikan
Adalah upaya yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memfasilitasi peserta didik agar peserta didik mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.
1.      Praktek pendidikan sebagai panduan ilmu dan seni
Pendidik memerlukan ilmu pendidikan dalam rangka memahami dan mempersiapkan suatu praktek pendidikan, namun dalam prakteknya pendidikan harus kreatif, skenario/ persiapan mengajar hanya dijadikan rambu-rambu saja, pendidik perlu melakukan improvisasi.


Tugas/ Latihan
1)      Secara etimologis ilmu berarti pengetahuan
2)      Secara operasional/substansial dewasa ini ilmu adalah pengetahuan ilmiah yang dihasilkan oleh metode ilmiah
3)      Studi pendidikan adalah upaya yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memahami pendidikan dan menghasilkan sistem konsep pendidikan
4)      Satu contoh studi pendidikan : seorang mahasiswa UPI sedang membaca buku Landasan Pendidikan
5)      Tiga jenis metode kerja dalam studi pendidikan :
  1. Metode kerja awam
  2. Metode ilmiah
  3. Metode filsafiah
6)      Studi pendidikan melalui metode filsafiah menghasilkan filsafat pendidikan
7)      Ilmu pendidikan adalah sistem pengetahuan tentang fenomena pendidikan yang dihasilkan melalui pendidikan dengan menggunakan metode ilmiah
8)      Objek matrial ilmu pendidikan adalah manusia
9)      Fungsi ilmu pendidikan :
  1. Menjelaskan
  2. Mengontrol
  3. Memprediksi
10)  Praktek pendidikan adalah upaya yang dilakukan oleh seseorang/sekelompok orang dalam rangka memfasilitasi peserta didik agar tujuan yang diharapkan bisa dicapai dengan baik
11)  Satu contoh praktek pendidikan, seorang ibu mensehati anaknya agar selalu rajin belajar.
12)  Praktek pendidikan (praktek mendidik) berlangsung dalam kegiatan/ interaksi sosial/ antara pendidik dan peserta didik yang berlangsung dalam suatu lingkungan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.
13)  Praktek pendidikan sebagai ilmu mempunyai arti bahwa ilmu pendidikan dapat dijadikan dasar dan petunjuk bagi praktek pendidikan, implikasinya, untuk menjadi guru, seseorang dapat mempelajarinya melalui ilmu pendidikan
14)  Mengapa pendidikan dipandang sebagai seni? Sebab mengajar melibatkan emosi, yang tidak dapat dinilai dan dikerjakan secara sistematis dan nilai-nilai kemanusiaan adalah nilai-nilai yang berada diluar jangkauan dari ilmu. Mengajar tidak dapat seluruhnya dikerjakan berdasarkan formula-formula tetapi harus melibatkan hati.
15)  Sebagai suatu upaya yang menuntut perencanaan yang matang dan menuntut kreasi atas dasar pertimbangan bahwa “objek” yang dididik adalah manusia sebagai pribadi, maka praktek pendidikan hendaknya merupakan upaya paduan antara ilmu dan seni.

BAB V
LANDASAN FILOSOFIS PENDIDIKAN

1)      Idealisme
Hakikat realitas bersifat spiritual. Tokohnya adalah Plato, manusia hakikatnya bersifat spiritual/ kejiwaan. Pengetahuan diperoleh dengan cara mengingat kembali. Sedang nilai-nilai berifat abadi. Manusia diperintah oleh nilai-nilai moral imperatif dan abadi yang bersumber dari realitas yang absolut.
Tujuan pendidikan adalah untuk membantu perkembangan pikiran dan diri pribadi (self) siswa. Kurikulum pendidikan berisikan pendidikan liberal dan vokasional/ praktis. Orientasi pendidikan adalah esensialisme. Metode pendidikan yang digunakan adalah metode dialektik, tetapi beberapa metode yang efektif yang mendorong belajar dapat diterima. Metode pendidikan idealisme cenderung mengabaikan dasar-dasar fisiologis dalam belajar. Guru harus menjadi unggul agar menjadi teladan bagi siswanya. Baik secara moral maupun intelektual. Siswa berperan bebas mengembangkan kepribadian bakat-bakatnya.

2)      Realisme
Hakikat realitas bersifat objektif. Tokohnya adalah John Locke. Manusia hakikatnya sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Pengetahuan manusia tentang realitas tidak dapat mengubah substansi/ esensi realitas. Nilai-nilai individual dapat diterima apabila sesuai dengan nilai-nilai umum masyarakatnya.
Tujuan pendidikan agar para siswa dapat bertahan hidup di dunia yang bersifat alamiah, memperoleh keamanan dan hidup bahagia. Kurikulum pendidikan meliputi:  a.         Sains/ IPA dan Matematika
                        b. Ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu sosial   
                        c. Nilai-nilai
Metode mengajar yang disarankan bersifat otoriter. Orientasi pendidikan adalah essensialisme. Guru adalah penentu materi pelajar sedang siswa berperan untuk menguasai pengetahuan yang diandalkan.

3)      Pragmatisme
Hakikat realisme adalah segala sesuatu yang dialami manusia (pengalaman) bersifat flural dan terus menerus berubah. Tokohnya adalah John Dewey. Manusia adalah bagian daripadanya dan terus menerus bersamanya. Pengetahuan bersifat relatif, pengetahuan dikatakan bermakna apabila dapat diaplikasikan. Nilai tidak bersifat eksklusif tidak berdiri sendiri, melainkan ada dalam suatu proses, yaitu dalam tindakan/ perbuatan manusia itu sendiri.
Perndidikan bertujuan menyediakan pengalaman untuk menemukan/ memecahkan hal-hal baru dalam kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya. Kurikulum pendidikan berisi pengalaman-pengalaman yang telah teruji, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Metode pendidikan mengutamakan penggunaan metode pemecahan masalah dan metode penyelidikan dan penemuan. Orientasi pendidikan adalah progresivisme.

4)      Scholatisisme
Segala realitas – kecuali Allah – memiliki struktur esensi dan eksistensi manusia adalah ciptaan Tuhan dan merupakan kesatuan badani dan ruhani. Tokohnya adalah Thomas Aquinas. Kebenaran absoluts dapat diperoleh manusia berdasarkan keimanan (fath). Nilai-nilai kebenaran yang pasti, absolute, universal dan abadi di dalam kebudayaan masa lampau dipandang sebagai kebudayaan ideal.
Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensialitas manusia secara penuh menurut doktrin Scholastic. Isi kurikulum bersumber dari buku-buku besar dan doktrin yang dipandang memuat pengetahuan dn nilai-nilai yang universal dan abadi. Orientasi pendidikan adalah perenialisme. Metode pendidikan mengutamakan mendisiplinkan pikiran, latihan formal, persiapan jiwa dan catekhisme. Guru harus menjadi teladan.

5)      Konstruktivisme
Realitas adalah fenomina sejauh dipahami oleh yang menangkapnya. Tokohnya adalah Jean Piaget. Manusia dituntut aktif membangun sendiri pengetahuannya bukanlah suatu potret dunia kenyataannya yang ada, melainkan hasil konstruksi. Tujuan pengajaran lebih menekankan pada perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam sebagai hasil konstruksi aktif si pelajar. Kurikulumnya lebih sebagai suatu persoalan yang perlu dipecahkan berbagai metode yang membantu pelajar belajar. Guru sebagai mediator dan fasilitator sedang siswa dituntut aktif belajar.

6)      Landasan Filsafat Pendidikan Nasional Pancasila
Realitas tidaklah ada dengan sendirinya melainkan sebagai ciptaan Tuhan YME. Manusia adalah kesatuan badani-ruhani yang hidup dalam ruang dan waktu, memiliki kesadaran dan penyadaran diri, mempunyai berbagai kebutuhan, dibekali naluri dan nafsu, serta memiliki tujuan hidup. Manusia dapat memperoleh pengetahuan melalui keimanan/ kepercayaan, berfikir, pengalaman empiris, penghayatan dan intuisi. Hakikat nilai diturunkan dari Tuhan YME, masyarakat dan individu. Pendidikan bertujuan mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME. Kurikulum pendidikan diatur dalam peraturan pemerintah (pasal 36 UU RI No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional). Metode pendidikan yang digunakan mengacu kepada prinsip CBSA.

Latihan/ Tugas
1.      Hakikat realitas (Idealisme) : bersifat spiritual
2.      Hakikat nilai  (Idealisme) : nilai itu bersifat abadi
3.      Tujuan pendidikan (Idealisme) : membantu perkembangan dan diri pribadi (self) siswa.
4.      Metode utama pendidikan Idealisme adalah metode dialektik
Adapun orientasi pendidikannya adalah cara berpikir dan moral siswa/ esensialisme.
5.      Hakikat pengetahuan (Realisme) : pengetahuan manusia tentang realitas tidak dapat mengubah substansi atau esensi realitas
6.      Hakikat manusia (Realisme) : manusia adalah bagian dari alam, ia muncul dialam sebagai hasil puncak dari mata rantai evaluasi yang terjadi dialam . manusia sesuai dengan apa yang dapat dikerjakannya
7.      Isi/kurikulum pendidikan (Realisme) : meliputi sains (IPA) dan Matematika, ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu sosial, nilai-nilai.
8.      Peranan pendidik dan peserta didik (Realisme) : guru pengelola KBM di kelas. Siswa menguasai pengetahuan yang diandalkan.
9.      Hakikat realitas (Pragmatisme) : segala sesuatu yang dialami manusia (pengalaman) bersifat plural, dan terus menerus berubah.
10.  Hakikat pengetahuan (Pragmatisme) : pengetahuan bersifat relatif, pengetahuan dikatakan bermakna apabila dapat diaplikasikan.
11.  Tujuan pendidikan (Pragmatisme) : mengerjakan seseorang bagaimana berpikir dan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat.
12.  Metode  utama pendidikan Pragmatisme adalah 1). Pemecahan masalah dan 2) penyelidikan dan penemuan.
13.  Hakikat manusia (scholastisme) : manusia adalah ciptaan Tuhan yang merupakan kesatuan antara badani dan rohani.
14.  Hakikat realitas (scholastisme) : alam semesta adalah ciptaan Allah
15.  Tujuan pendidikan (scholastisme) : Mengembangkan potensialitas manusia secara penuh menurut doktrin scolastis.
16.  Kurikulum pendidikan (scholastisme) : meliputi agama dan ilmu kemanusiaan. disiplin Matemaika, bahasa, logika dan retotika. juga penting.
17.  Hakikat realitas (Konstruktivisme) : manusia tidak pernah dapat mengerti realitas yang sesungguhnya secara ontologis.
18.  Hakikat pengetahuan (Konstruktivisme) : sumber pengetahuan berasal dari dunia luar tetapi dikonstruksikan dari dalam diri individu.
19.  Tujuan pendidikan (Konstruktivisme) : lebih menekankan pada pengembangan konsep dan pengertian (pengetahuan) yang mendalam sebagai hasil hasil konstruksi aktif si pelajar.
20.  Metode pendidikan (Konstruktivisme) : penggabungan penggunaan berbagai metode pengajaran
21.  Hakikat realitas (Pancasila) : hakikat realitas tidaklah ada dengan sendirinya, melainkan sebagai ciptaan Tuhan YME.
22.  Hakikat nilai (Pancasila) : Hakikat nilai diturunkan dari Tuhan, masyarakat dan individu.
23.  Hakikat manusia (Pancasila) : Manusia adalah makhluk Tuhan YME, yang merupakan kesatuan badani-rohani yang hidup dalam ruang dan waktu, memiliki kesadaran dan penyadaran diri mempunyai berbagai kebutuhan, dibekali naluri dan nafsu, serta memiliki tujuan hidup.
24.  Tujuan pendidikan (Pancasila) : Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
25.  Peran pendidik dan peserta didik (Pancasila) :
Peran pendidik : menjadi teladan, pembimbing dan motivator bagi siswa.
Peran peserta didik : memahami dan menguasai perubahan (agen perubahan atau petunjuk realitas)



BAB VI
LANDASAN PSIKOLOGIS PENDIDIKAN

A.    Nativisme
Tokohnya adalah Schoupenhauer dan Arnold Gessel. Teori ini lebih menekankan pada faktor keturunan. Implikasi terhadap pendidikan yaitu kurang memberikan kemungkinan bagi pendidik dalam upaya mengubah kepribadian peserta didik.

B.     Empirisme
Tokohnya adalah John Locke dan S.B Waston. Teori menyatakan bahwa yang menentukan perkembangan anak sepenuhnya adalah lingkungan. Implikasi terhadap pendidikan adalah memberikan kemungkinan sepenuhnya bagi pendidikan untuk dapat membentuk kepribadian peserta didik, tanggung jawab pendidikan sepenuhnya ada dipihak pendidik.

C.    Konvergensi
Tokohnya adalah William Stern dan Robert J. Havighurt. Mereka berasumsi bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor keturunan dan faktor lingkungan. Implikasinya adalah memberikan kemungkinan bagi pendidik untuk dapat membantu perkembangan individu sesuai dengan apa yang diharapkan.

I.       Teori Belajar
a.       Behaviorisme
Tokohnya B.F skinner
b.      Kognitif
Tokohnya Jerome Bruner
c.       Humanisme
Tokohnya Carl Rogers

Latiahan/ Tugas
Setelah mempelajari uraian  pada bab ini, kerjakanlah latihan/tugas berikut ini:
1.      Perkembangan (development) adalah : proses perubahan yang berlangsung terus menerus sejak masa konsepsi sampai akhir hayat
2.      Kematangan (maturation) adalah perubahan-perubahan pada diri individu sebagai hasil dari pertumbuhan fisik atau perubahan-perubahan biologis daripada sebagai perubahan melalui pengalaman.
3.      Belajar (learning) adalah perubahan tingkah laku pada diri individu yang bersifat relatif permanen dan terjadi sebagai hasil pengalaman.
4.      Faktor-faktor perkembangan individu menurut teori Nativisme adalah faktor keturunan.
5.      Menurut teori Konvergensi perkembangan individu ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor keturunan dan faktor lingkungan.
6.      Tokoh teori Empirisme antara lain bernama John Locke dan JB. Waston.
7.      Urutan tahap perkembangan individu menurut Havighurst adalah:
  1. Masa bayi/ anak-anak (6-12 tahun)
  2. Masa remaja/ Adolesen (12-18 tahun)
  3. Masa dewasa (18 tahun - …)
8.      Tujuan, isi dan metode pendidikan harus disesuaikan dengan tahap perkembangan individu (peserta didik) sebab, perkembangan individu berlangsung secara bertahap dan setiap individu memiliki perkembangan yang bervariasi.
9.      Dua jenis perlakuan orang dewasa/ pendidik yang diharapkan bagi peserta didik remaja awal adalah:
  1. Memberikan kesempatan berolahraga secara tim tetapi tidak mengutamakan fisik yang berat
  2. Menerima makin dewasanya anak didik
10.  Motivasi belajar (Behaviorisme) bersifat ekstrinsik melalui pembiasaan secara terus menerus atau melalui reinformcement
11.  Motivasi belajar (Kognitif) bersifat intrinsik yang timbul berdasarkan pengetahuan yang telah diketahui anak
12.  Motivasi belajar (Humanisme) : bersifat intrinsik yaitu berdasarkan pemuasan kebutuhan-kebutuhan individual peserta didik
13.  Bentuk pengelolaan kelas (Behaviorisme) : berpusat pada guru hubungan-hubungan sosial hanya merupakan cara untuk mencapai tujuan, bukan tujuan yang hendak dicapai.
14.  Metodologi pembelajaran (Kognitif) : menggunakan kurikulum dan metode-metode yang berfungsi mengembangkan keterampilan dasar berfikir.
15.  Individualisasi (Humanisme) : perlakuan terhadap individu didasarkan atas kebutuhan individual dan kepribadian peserta didik.


BAB VII
LANDASAN SOSIOLOGIS DAN
ANTROPOLOGIS PENDIDIKAN

A.    Individu, Masyarakat dan Kebudayaan
Individu adalah manusia perseorangan sebagai kesatuan yang tak dapat dibagi, dan bersifat unik. Masyarakat adalah sekelompok manusia yangh hidup dan bekerja sama cukup lama sehingga menjadi satu kesatuan sosial. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1985).
Pendidikan hakikatnya meliputi sosialisasi dan enkulturasi. Pendidikan yang berlangsung diberbagai lingkungan/ lembaga ada yang bersifat formal, informal dan non formal.
Fungsi utama pranata pendidikan, yaitu:
1)      Fungsi konservasi
2)      Fungsi inovasi/kreasi/transformasi

Tiga pola kegiatan sosial pendidikan, yaitu:
1)      Pola Nomokhetis
2)      Pola Ideografis
3)      Pola Transaksional

Latihan/ Tugas:
Setelah selesai mempelajari uraian bab ini, kerjakanlah latihan/tugas berikut ini:
1.      Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan dapat menjadi milik manusia melalui upaya :hidup bermasyarakat
2.      Asribed status adalah status yang diperoleh sejak lahir, sedangkan achieved status adalah status yang diraih melalui upaya tertentu
3.      Tindakan sosial adalah perilaku individu yang dilakukan dengan mempertimbangkan dan berorientasi kepada perialku orang lain untuk mencapai tujuan tertentu.
4.      Untuk mempertahankan eksistensi masyarakat dan kebudayaannya, masyarakat melakukan upaya:
  1. Sosialisasi
  2. Enkulturasi
5.      Sosialisasi adalah proses dimana anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisifasi dalam masyarakat
6.      Enkulturasi adalah suatu proses dimana individu belajar cara berpikir, bertindak dan merasa yang mencerminkan kebudayaan masyarakatnya
7.      Makna pendidikan meliputi makna sosialisasi dan enkulturasi, sebab pendidikan diupayakan antara lain agar peserta didik mampu hidup bermasyarakat dan berbudaya
8.      Pranata sosial adalah perilaku terpola yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasarnya.
9.      Pendidikan sebagai pranata sosial berfungsi untuk proses sosialisasi dan enkulturasi
10.  Karakteristik pendidikan sepanjang hayat: 1) Keterpaduan vertikal 2) Keterpaduan horizontal 3) keterpaduan ekologi, 4) keragaman dan keluarga dalam pendidikan
11.  Mengapa pendidikan dalam keluarga disebut pendidikan informal? Sebab cara-cara pendidikan dalam keluarga berlangsung dalam cara-cara dan suasana yang wajar.
12.  Pendidikan dalam keluarga berfungsi:
1)      peletak dasar pendidikan anak
2)      persiapan ke arah kehidupan anak dalam masyarakat
13.  Sekolah adalah suatu satuan sosial/ lembaga sosial yang kskhususan tugasnya ialah melaksanakan proses pendidikan
14.  Tiga fungsi pendidikan nonformal dalam hubungannya dengan sekolah
  1. pengganti
  2. penambah
  3. pelengkap
15.  Fungsi pendidikan bagi masyarakat dan kebudayaan:
  1. fungsi konservasi
  2. fungsi inovasi
16.  Dua macam fungsi sekolah:
  1. fungsi intern
  2. fungsi ekstern
17.  Kegiatan sosial pola nomotheis mengimplikasikan pendidikan sebagai: sosialisasi kepribadian
18.  Kegiatan sosial pola transaksi mengimplikasikan pendidikan sebagai: suatu sistem sosial yang mengutamakan keseimbangan
19.  Jaeger membedakan dua pola sosialisasi, yaitu:
  1. cara represi
  2. pola sosialisasi partisipasi
20.  Konformitas adalah bentuk interaksi yang didalamnya setiap individu berperilaku terhadap individu lainnya sesuai dengan yang diharapkan kelompok/ masyarakat
21.  Tipe guru lion tamer, adalah guru yang menggiring murid-murid untuk mempelajari hal-hal yang dipilihkan oleh guru dengan pertimbangan itulah yang terbaik bagi mereka.

BAB VIII
LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN

Proses pendidikan di Indonesia melewati berbagai tahapan/ zaman, yaitu:
1.      Zaman purba
2.      Zaman kerajaan Hindu-Belanda
3.      Zaman kerajaan Islam
4.      Zaman pengaruh Portugis dan Spanyol
5.      Zaman pemerintahan kolonial Belanda
Kebijakan dan praktek pendidikan yang diselenggarakan rakyat dan kaum pergerakan antara lain:
1)      Budi Utomo
2)      Muhammadiyah
3)      Perkumpulan Putri Mardika
4)      Trikoro Dharmo
5)      Perguruan Taman Siswa
6)      Ksatrian Institute
7)      Nahdlatul Ulama
8)      INS Kayutanam
Sekarang pada masa penduduk Jepang, pendidikan diarahkan demi kepentingan perang Asia Timur Raya.
Pendidikan Indonesia periode tahun 1945-1969 dan masa pembangunan jangka panjang ke 1: 1969-1993

Tugas/Latihan:
1.      Tujuan pendidikan pada zaman Purba adalah agar generasi muda dapat mencari nafkah, membela diri, hidup bermasyarakat, taat terhadap adapt, nilai-nilai religius yang mereka yakini.
2.      Pada zaman Kerajaan Hindu selain di dalam keluarga dan paguron, pendidikan juga dilaksanakan di lembaga pendidikan bernama pesantren
3.      Pada zaman Kerajaan Islam pendidikan bersifat demokratis, artinya: pendidikan adalah hak semua orang, adapun dasar/ landasannya yaitu tauhi, Al-Qur’an, hadist, fikih, bahasa arab (membaca dan menulis)
4.      Tujuan pendidikan pada zaman Portugis/Spanyol adalah: penyebaran agama Katolik
5.      Lima karakteristik pendidikan pada zaman pemerintahan Kolonial Belanda adalah :
  1. Dualisme pendidikan
  2. Sistem konkordansi
  3. sentralisasi pengelolaan pendidikan oleh pemerintah
  4. Menghambat pergerakan nasional
  5. Munculnya perguruan swasta yang militant demi perjuangan nasional (kemerdekaan)
6.      Kaum Pergerakan Nasional berjuang melalui jalur pendidikan, sebab mengingat cirri-ciri pendidikan yang diselenggarakan pemerintah colonial Belanda yang tidak memungkinkan bangsa Indonesia menjadi cerdas, bebas, bersatu dan merdeka.
7.      Tiga karakteristik pendidikan (nasional) yang diselenggarakan Kaum Pergerakan Nasional pada zaman kolonial Belanda adalah :
  1. Bersifat nasionalist dan anti Belanda
  2. Berdiri sendiri/ percaya kepada kemampuan sendiri
  3. Pengakuan kepada eksistensi perguruan swasta sebagai perwujudan  harga diri yang tinggi.
8.      Dasar pendidikan Perguruan Taman Siswa adalah Panca Dharma. Dua dharma yang terutama melandasi semboyan "tutwuri handayani" atau "Among Methode"  adalah 1) kodrat alam, 2) kemerdekaan
9.      Tujuan pendidikan pada zaman pendudukan militerisme Jepang adalah : pendidikan diarahkan demi kepentingan perang Asia TimurRaya
10. Sebagai koreksi terhadap kebijakan dan praktek pendidikan era Orde Lama (Era Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahap Pertama 1961-1969), Orde Baru menetapkan kembali Pancasila clan UUD 1945 sebagai dasar pendidikan nasional. Asas (Dasar) pendidikan nasional pada era Orde Lama yang dikoreksi itu adalah: Manifesto Politik Republik Indonesia sebagai GBHN.
11. Selama PJP I telah dilakukan tiga kali perubahan kurikulum sekolah, Ketiga kurikulum sekolah yang dimaksud adalah: 1) kurikulum 1968, 2) kurikulum 1975, 3) kurikulum 1984.
12. Hasil pembangunan pendidikan selama PJP I dalam hubungannya dengan ketenagakerjaan di Indonesia masih memunculkan masalah relevansi. Maksudnya: kurangnya keterkaitan dan kesepadanan antara output pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja
13.  Dalam rangka memecahkan masalah mutu tenaga kepandidikan (guru SD SMP dan SMA, Kebijakan yang telah diambil dan dilaksanakan pemerintah pada PJP I adalah : meningkatkan kualifikasi guru SD dengan DI, DII, guru SMP dengan DIII, untuk SMA dipegang dengan SMA.
14.  Pemerintah kolonial Belanda pernah memberlakukan sistem dualisme pendidikan, yaltu : pendidikan untuk bangsa Belanda yang dibedakan dengan pendidikan untuk kalangan Bumi Putera.
15.  Dewasa ini kualifikasi akademik pendidikan guru minimal D IV atau S1. Apakah ada tanda-tanda keberlanjutan kebijakan tersebut dengan upaya pemecahan masalah mutu guru pada masa PJP I? Jelaskan: ya, ada, selama PJP 1 dan sudah sejak pelita I keinginan untuk melakukan inovasi pendidikan sangat besar. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidik.

BAB IX
LANDASAN YURIDIS PENDIDIKAN

Pasal 31 ayat 3 UUD 1945 “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-undang.”
1.      Pendidikan : pasal 1 ayat 1 Undang-undang RI No. 20 tahun 2003
2.      Pendidikan Nasional dan Sistem Pendidikan Nasional : pasal 1 ayat 2 UU RI No. 10 Tahun 2003.
3.      Dasar Pendidikan Nasional : pasal 2 UU RI No. 20 Tahun 2003.
4.      Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional : pasal 3 UU RI No. 20 Tahun 2003.
5.      Hak dan Kewajiban Warga Negara : - pasal 31 ayat 1 UUD 1945
- pasal 5 UU RI No. 20 Tahun 2003
Semua yang mencakup pendidikan dan aspek-aspek yang ada didalamnya ada dalam UU RI No. 20 Tahun 2003. Tentang “Sistem Pendidikan Nasional.”

Latihan/Tugas
Setelah selesai mempelajari uraian bab ini, kerjakanlah latihan/tugas berikut ini:
1.      Satu contoh landasan yuridis pendidikan nasional adalah : UUD 45
2.      Cita-cita bangsa Indonesia di bidang pendidikan sebagaimana tersurat pada Pembukaan UUD 1945 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa
3.      Amanat yang tersurat pada Pasa1 31 ayat (3) UUD 1945 adalah : pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang
4.      Pendidikan nasional adalah : pendidikan yang berdasarkan pancasila dan UUD Negara RI tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agamam kebudayaan nasional Indonesia dan tanggapan terhadap tuntutan perubahan zaman.
5.      Dasar pendidikan nasional adalah : pancasila dan UUD 45
6.      Tiga jalur pendidikan dalam sistem pendidikan nasional : 1) formal, 2) nonformal, 3) informal
7.      SMP dan MTs tergolong jenjang pendidikan : Dasar
8.      Bentuk (satuan) pendidikan nonforrnal yang sederajat dengan SMA adalah : program paket C
9.      Dua bentuk satuan pendidikan anak usia dini yang diselenggarakan pada jalur pendidikan formal adalah        : 1) SD, 2) MI
10.  Kepala sekolah memaksa peserta didik untuk mengikuti pelajaran agama yang diajarkan oleh guru agama yang tidak seagama dengan peserta didik. Ini adalah contoh pelanggaran terhadap : hak azasi sila ke 1 hukum sara.
11.  Tujuan Standar Nasional Pendidikan adalah : menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. (pasal 4)
12.  Menurut standar penilaian pendidikan, hasil penilaian atas hasil belajar digunakan pendidik untuk:
1)      Menilai pencapaian kompetensi peserta didik
2)      Bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar dan
3)      Mempebaiki proses pembelajaran
13.  Menurut standar pengelolaan oleh satuan pendidikan, pengambilan keputusan pada satuan pendidikan dasar di bidang akademik dilakukan oleh : peraturan mentri berdasarkan usulan BSNP
14.  Fungsi kedudukan guru sebagai tenaga professional adalah : meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional
15.  Menurut UU RI No. 14 Tahun 2005, guru dapat diberhentikan tidak dengan hormat dari jabatan guru karena:
  1. melanggar sumpah dan janji jabatan
  2. melanggar perjanjian kerja/ kesepakatan kerja bersama, melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas selama 1 bulan/ lebih secara terus menerus.

16.  Penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah harus berpedoman pada panduan yang dikeluarkan oleh : BNSP
17.  Menurut UU RI No. 14 Tahun 2005, agar guru diakui berkedudukan sebagai tenaga professional harus dibuktikan dengan : sertifikasi
18.  Kompetensi pendidik sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:
  1. Kompetensi pedagogik
  2. Kompetensi kepribadian
  3. Kompetensi social
  4. Kompetensi professional
19.  Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh pemerintah atau masyarakat berbentuk      : pendidikan keagamaan
20.  Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara : pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar