MANAJEMEN KELAS

Senin, 11 Februari 2013

implementasi metode discovery dalam pembelajaran ipa konsep dasar fisika untuk kelas v sd


IMPLEMENTASI METODE DISCOVERY DALAM
 PEMBELAJARAN IPA KONSEP DASAR FISIKA UNTUK KELAS V SD

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan pada perumusan masalah, maka pemahaman konsep IPA akan  meningkat melalui metoda discovery dengan mengoptimalkan KIT IPA dan model Sederhana serta pada perencanaan pelaksanaan pembelajaran dan menilai hasil kemampuan siswa dalam pembelajaran IPA.
Dengan merujuk kepada Nuryani Rustaman (1992) keterampilan proses yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran IPA di SD adalah:
    1. Melakukan pengamatan (observasi)
    2. Menafsirkan hasil pengamatan (interpretasi dan inferensi)
    3. Mengelompokan (klasifikasi)
    4. Meramalkan (prediksi)
    5. Berkomunikasi
    6. Berhipotesis
    7. Merencanakan percobaan atau penyelidikan
    8. Menerapkan konsep atau prinsip
    9. Mengajukan pertanyaan
    10. Keterampilan menyimpulkan


Variabel yang Diselidiki
Variabel-variabel penelitian untuk mengatasi permasalahan yang telah dirumuskan sebagai berikut :
a.         Variabel input            :    kesulitan  siswa kelas V dalam memahami konsep-konsep dasar IPA.
b.        Variabel proses          :    keterampilan siswa kelas V dalam mencermati dan mengamati model yang berhubungan dengan materi dan konsep.
c.         Variabel output         :    peningkatan keterampilan siswa dalam bereksperimen.
Perencanaan
Pada perencanaan ini dibuat instrumen-instrumen yang diperlukan dalam pembelajaran, antara lain :
                                                            1)            Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
                                                            2)            Mempersiapkan alat dan bahan untuk peraktek.
                                                            3)            Membuat lembar observasi untuk merekam perencanaan, pelaksanaan, dan hasil kemampuan siswa dalam memberi contoh lain dan menyimpulkan tentang konsep IPA





A.    Wacana Tentang Cahaya
Cahaya memiliki berbagai sifat sebagai berikut:
1.      merambat lurus
2.      dapat dibiaskan
3.      dapat dipantulkan
4.      menembus benda bening
Cahaya terdiri dari berbagai warna:
  1. merah
  2. Jingga
  3. Kuning
  4. hijau
  5. biru
  6. nila
  7. unggu









B.     Rencana Pelaksanaan Pengajaran
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran          : IPA
Kelas / Semester        : V / II
Alokasi Waktu           : 2 X 35 Menit


I.                   Standar Kompetensi
Cahaya dan sifat-sifatnya.

II.                Kompetensi Dasar
Menjelaskan sumber-sumber cahaya alam dan buatan

III.             Indikator
Memahami tentang sifat-sifat cahaya melalui praktek

IV.             Materi Pokok
         Sifatsifat cahaya

V.                Langkah-langkah Pembelajaran
A.    Kegiatan Awal
1.      Berdo’a, mengisi daftar kelas, mempersiapkan materi ajar, model dan alat peraga.
2.      Memotivasi siswa untuk mengeluarkan pendapat.
3.      Mengajukan beberapa pertanyaan materi minggu lalu.
4.      memberikan arahan untuk peraktek.

B.     Kegiatan Inti
1.      Siswa dibagi dalam lima kelompok. Per kelompok menyebar mencari tempat di luar kelas.
2.      Siswa menerima satu kantung plastik berisi bejana, cermin datar, selembar kertas putih.
3.      Siswa membuka kantong plastik, kemudian mengamati secara teliti benda-benda yang ada.
4.      siswa melakukan peraktek dan guru hanya mengarahkan dan meninjau siswa.
5.      Siswa membuat catatan tentang temuannya.

C.    Kegiatan Penutup
1.      Siswa menyampaikan secara lisan temuannya.
2.      Guru memberi komentar temuan siswa dengan menyesuaikan istilah yang digunakan siswa dengan istilah dalam IPA.
3.      Guru menjelaskan tentang sifat cahaya hasil peraktek dan temuan siswa.
VI.             Sumber dan Alat Belajar
A.   Sumber Belajar      : Buku Sains untuk Sekolah Dasar Kelas V Penerbit Erlangga.
B.     Alat Peraga
1.      Bejana
2.      Cermin datar
3.      Kertas
4.      Air
VII.          Metode Pembelajaran
A.    Ceramah
B.     Tanya jawab
C.     Demonstrasi
D.    Pemberian tugas
VIII.       Penilaian
A.    Tes Tertulis            : Hasil LKS siswa
B.     Tes Perbuatan        : Dilakukan ketika pembelajaran berlangsung
  Tasikmalaya,    Mei 2008
       Mengetahui,                                                                                  
    Kepala Sekolah                                                                  Guru Kelas V


                                                         
NIP.                                                                               NIP.  
LEMBAR KERJA SISWA

Alat dan Bahan
1.      Bejana
2.      Cermin datar
3.      Kertas
4.      Air

Cara Kerja
  1. Isilah baskom dengan air jernih.
  2. Masukan cermin kedalam bejana berisi air tersebut.
  3. Aturlah cermin sehingga dapat memantulkan cahaya matahari.
  4. Gunakan kertas putih untuk menangkap pantulan cahaya dari cermin.
  5. Amati apa yang terjadi

Pertanyaan
  1. warna apa saja yang terlihat oleh mu? Tulis apa yang terjadi!
  2. gunakan air yang keruh, lalu apa yang terjadi?





Kinerja Siswa

Aspek Yang Diamati
Kelompok Siswa
1
2
3
4
5
1.      Penggunaan alat sesuai dengan fungsi.
2.      Kerjasama antar kelompok nampak kompak.
3.      Menunjukkan minat/inisiatif beraktivitas.
4.      Dapat menerima/menghargai pendapat orang lain.
5.      melakukan pengamatan dan percobaan dengan seksama
6.      Semua anggota kelompok bergilir melakukan percobaan. Dilakukan dengan mandiri (tanpa bantuan guru yang berarti).
7.      Menindaklanjuti alat-alat/objek pengamatan.
8.      Keakuratan dan ketepatan data hasil pengamatan.
9.      Mengelola waktu, alat dan bahan secara efektif dan efesien.
10.  Semua anggota kelompok menyimpulkan hasil percobaan.





Jumlah
Rata-rata





BAB IV
KESIMPULAN

Salah satu kelemahan pembelajaran IPA selama ini adalah pembelajarannya lebih menekankan pada penguasaan sejumlah  fakta dan konsep, tetapi kurang menekankan pada penguasaan kemampuan dasar. Pembelajarannya hanya sekedar pemindahan konsep-konsep yang kemudian menjadi bahan hapalan bagi siswa dan bahkan evaluasi hasil belajar (EHB) sebagai ukuran utama prestasi siswa dan kesuksesan guru dalam mengelola pembelajaran. Oleh karena itu guru tidak terdorong untuk menghadirkan penomena-penomena alam ataupun melalui alat peraga sederhana kedalam pembelajaran, dan dengan sadar mengabaikan tuntutan ideal kurikulum dan hakikat pendidikan IPA sebagai proses, produk, dan sikap (nilai). Oleh karena itu pemerintah mengembangan kurikulum yang beralih dari kurikulum berbasis isi atau materi ke kurikulum berbasis kemampuan agar guru tidak hanya menekankan pada kemampuan kognitif siswa saja, tapi lebih kepada kemampuan dasar yang terdiri dari proses, produk, dan sikap.
Metode Discovery merupakan komponen dari praktek pendidikan yang meliputi metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif, beroreientasi pada proses, mengarahkan sendiri, mencari sendiri dan reflektif. Menurut Encyclopedia of Educational Research, penemuan merupakan suatu strategi yang unik dapat diberi bentuk oleh guru dalam berbagai cara, termasuk mengajarkan ketrampilan menyelidiki dan memecahkan masalah sebagai alat bagi siswa untuk mencapai tujuan pendidikannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode discovery adalah suatu metode dimana dalam proses belajar mengajar guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi yang secara tradisional biasa diberitahukan atau diceramahkan saja.





DAFTAR PUSTAKA
Action Research. (tanpa tahun). Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Pendidikan
Indonesia.
Ali, M. Guru dalam Proses Belajar Mengajar. 1984. Bandung: Sinar Baru.
Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Hendri Mulyana, Edi, dkk (2005) Metodologi Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar. Tasikmalaya:Universitas Pendidikan Indonesia
Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran. 2006.
Mimbar Pendidikan. 2006. Berbagai Pendekatan Dalam Pembelajaran. Bandung: University Press UPI.
M. Dahlan. 1984. Model-model Mengajar. Bandung: Diponegoro.
Surakhmad, Winarno. 1986. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung: Tarsito.
Wardani, I. et al. (2003). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.
Winkel. (1991). Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Grasindo









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar